if tommorow never comes...
Satu kalimat yang jarang sekali terlintas di benak saya.. "if tommorow never comes...". Apa yang akan saya lakukan jika hari esok ternyata tidak digariskan untuk saya... Pertanyaan yang sulit..Sebenarnya saya bukan orang yang doyan dengan pemikiran macam itu, sedikit banyak mengarah ke titik pesimisme. Tapi ternyata postingan salah satu temandi milis SMA pagi ini cukup menggugah untuk berandai-andai mengenai satu waktu terakhir saya. Judul postingan itu adalah " Andai besok adalah hari terakhirku...", dan berikut sedikit petikannya :
"...Ada cerita tentang seorang kalifah. Suatu hari anaknya pulang dengan menangis terisak-isak. Ia bertanya, "Apa yang terjadi anakku?" Anaknya meredakan tangisnya dan menjawab, "Teman-teman mengolokku karena baju yang kupakai bertambal sulam. Mereka berkata satu sama lain tentang betapa malangnya diriku." Kalifah segera menulis surat pada bendaharawan negara untuk meminjam empat dirham, dan dia berjanji akan mengembalikannya awal bulan. Tidak lama muncul balasan dari bendaharawan, "Siapakah Engkau, hingga berani memastikan hidupmu sampai awal bulan? Bila Engkau mati esok hari bagaimana Kau mempertanggungjawabkan hutangmu di hadapan Allah?" Membaca surat itu dia menangis terisak-isak. Istrinya bertanya padanya apa yang terjadi dan dia menjawab, "Aku salah, aku berani memastikan hidupku hingga awal bulan depan, padahal aku tidak memiliki kuasa atas hidupku bahkan satu jam mendatang."Keesokan harinya kalifah berkata pada anaknya, "Nak, Engkau akan berangkat sekolah dengan baju yang bertambal ini. Janganlah malu pada temanmu. Berbanggalah dan bersyukurlah bahwa bila Allah menghendaki suatu hari Engkau akan memiliki baju baru yang menyenangkan hatimu."
Setelah membaca cerita diatas saya diam, kemudian terlintas.."iya ya...kapan hari terakhir saya datang?" dan seperti biasa hal ini membawa saya masuk ke permenungan yang cukup mengharukan. Kalau memang besok tidak ada, lalu untuk apa semua cita-cita saya selama ini? Kemana larinya idealisme saya kemudian? Tapi toh kemudian saya sadar, permenungan ini harusnya lari ke sisi lain dan dimaknai dengan lebih baik.
Ketika saya tidak tahu kapan garisan ini akan selesai, maka saya berpikir untuk menggantungkan cita-cita saya tidak hanya di kemudian hari. Tetapi di hari ini, tepat apa yang sedang saya jalani. Dengan demikian saya akan melakukan segala sesuatunya tanpa tertunda. Apa yang bisa saya lakukan sekarang kenapa harus esok? Saya tidak ingin lagi menggantungkan janji sebagai hutang...karna saya tak ingin meninggalkan beban bagi mereka yang saya sayangi, untuk membayar sekian banyak janji saya. Lalu saya akan meninggalkan kata-kata " Kalo gw punya uang nanti gue akan....", tapi saya akan melakukan semua sebaik-baiknya dengan segala keterbatasan saya bukan menunggu kalau saya punya uang nanti. Idealisme pun harus mulai ditancapkan dengan realita bukan hanya angan pemikiran belaka.
Intinya..mulai semua hari ini, lakukan semua yang harus dilakukan hari ini... biarkan semua goretan Yang Maha Kuasa menunjukan jalan mana yang harus dilalui. Sampai akhir tanganNya berhenti dan siap membuka gerbangNya untuk saya..
